Siat Geni: Atraksi Cahaya dan Keberanian dari Desa Adat Tuban

Selain keindahan pantainya, kawasan Kuta juga menyimpan tradisi budaya yang sangat ekstrem dan penuh makna, yaitu Siat Geni. Bertempat di Desa Adat Tuban, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang mempertemukan keberanian warga dengan panasnya bara api.

Makna Spiritual

Nama "Siat Geni" berasal dari bahasa Bali; Siat berarti perang dan Geni berarti api. Ritual ini bukan didasari atas rasa dendam atau amarah, melainkan simbol perlawanan terhadap sifat-sifat buruk (Adharma) dalam diri manusia.

Api di sini dianggap sebagai sarana penyucian (lebur) untuk menghalau energi negatif atau roh jahat agar tidak mengganggu ketenteraman warga desa.

Waktu dan Prosesi Pelaksanaan

Siat Geni biasanya digelar setahun sekali, tepatnya pada hari Purnama Kapat (sekitar bulan September atau Oktober).

Tahapan Ritual:

1.      Persembahyangan: Sebelum dimulai, seluruh peserta melakukan doa bersama di Pura untuk memohon keselamatan.

2.      Persiapan Amunisi: Bahan utama yang digunakan adalah panyalin (sabut kelapa) yang telah dibakar hingga menjadi bara api yang merah membara.

3.      Pertempuran Api: Peserta dibagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Mereka akan saling melempar bara api sabut kelapa diiringi suara gamelan yang riuh.

4.      Pendinginan: Setelah ritual selesai, biasanya dilakukan pembersihan spiritual untuk memastikan tidak ada luka atau energi negatif yang tertinggal.

Keunikan Siat Geni Tuban

Berbeda dengan perang pandan di desa lain, Siat Geni di Tuban sangat menonjolkan visual percikan api yang terbang di kegelapan malam. Meski terlihat berbahaya, para peserta jarang mengalami luka bakar serius, yang diyakini masyarakat sebagai bentuk perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Informasi Pengunjung: Siat Geni adalah acara yang sangat terbuka bagi wisatawan untuk ditonton. Lokasinya sangat dekat dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai, menjadikannya destinasi budaya yang mudah dijangkau bagi Anda yang sedang berada di area Kuta.