Tradisi Mekotek Desa Munggu: Sejarah, Makna, dan Kemeriahannya
Desa Munggu
27/06/2026
11
Desa Adat Munggu di Kecamatan Mengwi, Badung, memiliki warisan budaya yang sangat ikonik bernama Mekotek. Tradisi ini bukan sekadar atraksi wisata, melainkan ritual sakral yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat setempat sebagai bentuk rasa syukur dan upaya tolak bala.
Sejarah Singkat
Tradisi Mekotek diyakini sudah ada sejak masa Kerajaan Mengwi pada tahun 1700-an. Awalnya, tradisi ini dilakukan untuk menyambut pasukan Kerajaan Mengwi yang pulang membawa kemenangan setelah berperang di Blambangan.
Dahulu, para prajurit menggunakan tombak besi. Namun, untuk menghindari cedera dan demi alasan keamanan pada masa kolonial Belanda, senjata tersebut diganti dengan tongkat kayu pulet sepanjang 2 hingga 3 meter.
Makna dan Pelaksanaan
Mekotek dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan). Nama "Mekotek" sendiri diambil dari bunyi kayu yang saling berbenturan—tek, tek, tek—saat ritual berlangsung.
Prosesi Utama:
- Penyatuan Tongkat: Ratusan warga pria berkumpul dan memadukan tongkat kayu mereka di udara hingga membentuk formasi kerucut (gunungan).
- Uji Nyali: Peserta yang berani akan memanjat puncak tumpukan tongkat tersebut untuk memberikan komando atau sekadar menunjukkan semangat kemenangan.
- Keliling Desa: Peserta melakukan konvoi mengelilingi desa, diiringi gamelan yang membangkitkan semangat.
Bagi krama Desa Munggu, Mekotek adalah ritual wajib. Masyarakat percaya bahwa jika tradisi ini tidak dilaksanakan, akan terjadi musibah atau wabah penyakit (gering) di desa mereka. Selain itu, Mekotek berfungsi mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Tips Berkunjung: Jika Anda ingin menyaksikan langsung, datanglah ke Desa Munggu tepat pada hari Sabtu Kliwon Kuningan. Pastikan menggunakan pakaian adat ringan dan menjaga kesopanan selama ritual berlangsung.